HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG PRE MENSTRUAL SYNDROME DENGAN PERILAKU MENGATASI PRE MENSTRUAL SYNDROME PADA REMAJA PUTRI DI DAYAH ASHABUL YAMIN KECAMATAN PAYA BAKONG KABUPATEN ACEH UTARA
DOI:
https://doi.org/10.5281/zenodo.16018933Keywords:
Pengetahuan, Perilaku, Remaja Putri, Pre Menstrual SyndromeAbstract
Tingkat kesehatan perempuan mencerminkan pelayanan kesehatan di suatu negara. Masalah remaja merupakan masalah yang perlu diperhatikan dalam pembangunan nasional di Indonesia. Pre menstrual syndrome (PMS) merupakan masalah kesehatan umum yang paling banyak dialami remaja. Penyebab utama PMS adalah ketidakseimbangan kerja hormon estrogen dan progesteron serta perubahan kadar serotonin. Sekitar 30-80% wanita mengalami gangguan suasana hati (mood) atau somatis atau keduanya yang terjadi selama siklus menstruasi. WHO (World Health Organization) menjelaskan gejala PMS dialami 65,7 pada remaja putri. Gejala PMS diantaranya sakit kepala, nyeri payudara, perut kembung, ketidaknyamanan panggul, sakit pinggang, oedema ekstremitas bawah, perubahan nafsu makan, mual, kelelahan, tumbuh jerawat dan perubahan tingkah laku atau emosi. Gejala biasanya terjadi 7-14 hari sebelum menstruasi dan menghilang saat menstruasi. Kurangnya pengetahuan dapat menurunkan kualitas hidup remaja yang berdampak pada kesiapan menghadapi PMS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan pengetahuan tentang pre menstrual syndrome dengan perilaku mengatasi pre menstrual syndrome pada remaja putri di Dayah Ashabul Yamin Kecamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan crossectional, dilaksanakan pada Agustus 2023. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja putri tingkat Madrasah Aliyah kelas 3. Sampel sebanyak 60 orang dengan menggunakan pengambilan sampel secara total sampling. Hasil uji chi – squre test diperoleh p-value < 0,05 menunjukkan ada hubungan pengetahuan tentang pre menstrual syndrome dengan perilaku mengatasi pre menstrual syndrome pada remaja putri. Untuk mengatasi pre menstrual syndrome, remaja putri harus meningkatkan pengetahuan dengan update informasi melalui berbagai media agar dapat mengambil sikap terbaik menghadapi permasalahan gangguan reproduksi yang dialami.