MAKNA HIDUP KAUM GAY DAN BISEKSUAL YANG TERINFEKSI HIV-AIDS PADA KOMUNITAS LELAKI SEKS LELAKI (LSL) “AISHITERU”: STUDI KUALITATIF

Authors

  • Arief Andriyanto Universitas Bina Sehat PPNI Mojokerto Author

DOI:

https://doi.org/10.5281/zenodo.16021663

Keywords:

Gay dan biseksual, Infeksi HIV-AIDS, Lelaki Seks Lelaki, Makna Hidup Kaum Gay

Abstract

Terkonfirmasi positif HIV-AIDS akibat perilaku seksual menyimpang pasangan gay dan biseksual akan merasakan ketakutan, kecemasan, dan kepanikan. Dalam kondisi ini, peran spiritualitas dapat membantu menyadarkan akan adanya kekuasaan Tuhan, sehingga dalam penderitaan dan kondisi yang tidak menyenangkan, seseorang mampu mencapai harapan hidup yang berguna, bermakna dan berharga. Tujuan untuk mengidentifikasi makna hidup kaum gay dan biseksual yang terinfeksi HIV-AIDS pada komunitas LSL “Aishiteru”.

Penelitian kualitatif fenomenologi dengan sampel 11 partisipan diambil secara purposive sampling menggunakan metode in depth interview dan teknik semi terstruktur selama 30-45 menit. Sumber data dari transkip wawancara dan catatan lapangan untuk ekspresi non-verbal. Analisis data: (1) membuat transkrip data hasil wawancara; (2) membaca seluruh deskripsi partisipan; (3) menformulasi pernyataan menjadi kode; (4) pembentukan kategori dan tema; (5) mendeskripsikan struktur dasar fenomena; (6) memvalidasi hasil penelitian.

Teridentifikasi delapan tema, diantaranya: (1) mengalami reaksi proses berduka; (2) keterbatasan mobilisasi dan kualitas ibadah; (3) fokus perilaku; (4) fokus spiritualitas; (5) fokus kognitif; (6) interaksi sosial; (7) transendensi diri; (8) jaminan kelangsungan hidup. Respon yang diberikan partisipan saat penelitian adalah penolakan, kemarahan, tawar-menawar, putus asa, dan pasrah. Tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan juga difokuskan pada perubahan psikologis terutama pada kebutuhan spiritual klien. Mengajarkan bagaimana cara menghargai diri sendiri, menghargai keluarga dan sosial, menghargai lingkungan dan alam, serta menghargai Tuhannya. Saat klien memiliki peningkatan spiritualitas, ia akan memiliki perilaku pencegahan penularan untuk tidak menularkan penyakitnya baik pada pasangan ataupun teman seksualnya.

Downloads

Published

2024-04-28

Issue

Section

Articles