EFEKTIVITAS TERAPI KOMPLEMENTER MULTIMODAL: RENDAMAN AIR HANGAT, AROMATERAPI, DAN HIPNOTERAPI TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH DAN TEKANAN NADI PADA LANSIA
DOI:
https://doi.org/10.5281/xmzcpp83Keywords:
Terapi Komplementer, Rendaman Air Hangat, AromaterapiAbstract
Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama pada lansia yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Pendekatan nonfarmakologis melalui terapi komplementer multimodal berpotensi membantu mengendalikan tekanan darah dengan meningkatkan relaksasi dan menurunkan aktivitas saraf simpatis. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas kombinasi rendaman air hangat, aromaterapi, dan hipnoterapi terhadap perubahan tekanan darah dan tekanan nadi pada lansia. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental pretest–posttest with control group. Sebanyak 42 lansia di Dusun Tonggalan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta dibagi menjadi kelompok intervensi (n=21) dan kelompok kontrol (n=21) menggunakan purposive sampling. Kelompok intervensi memperoleh rendaman kaki air hangat (38–40°C) selama 15 menit, inhalasi aromaterapi lavender, dan hipnoterapi relaksasi selama 20 menit, tiga kali per minggu selama dua minggu. Kelompok kontrol menerima pelayanan kesehatan rutin tanpa terapi komplementer. Tekanan darah sistolik, diastolik, dan tekanan nadi diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan tensimeter digital terkalibrasi. Analisis dilakukan dengan paired t-test dan independent t-test pada tingkat signifikansi 95%. Kelompok intervensi mengalami penurunan bermakna pada tekanan darah sistolik, diastolik, dan tekanan nadi setelah empat minggu dibandingkan sebelum intervensi (p: 0,001). Besaran penurunan ketiga parameter hemodinamik tersebut juga lebih besar dibandingkan kelompok kontrol (p: 0,05), menunjukkan efektivitas terapi komplementer multimodal dalam meningkatkan regulasi kardiovaskular pada lansia. Kombinasi rendaman air hangat, aromaterapi, dan hipnoterapi efektif menurunkan tekanan darah dan tekanan nadi pada lansia. Intervensi ini dapat dipertimbangkan sebagai terapi pendamping nonfarmakologis yang aman, mudah diterapkan, dan berpotensi diintegrasikan dalam program pelayanan kesehatan lansia di komunitas.