HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 12-24 BULAN DI PUSKESMAS NAIONI KOTA KUPANG PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
DOI:
https://doi.org/10.5281/zenodo.16066022Keywords:
ASI Eksklusif, Balita, StuntingAbstract
Stunting adalah salah satu masalah gizi yang berkaitan dengan risiko terjadinya gangguan perkembangan otak, kesakitan dan kematian. Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan proporsi status gizi sangat pendek dan pendek pada balita di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meningkat menjadi 42,6%. Jumlah balita stunting sebanyak 25.543 kasus dari 11 puskesmas di Kota Kupang; Puskesmas Naioni berada pada urutan ke-6 dengan prevalensi 19,8% atau sebanyak 272 kasus. Kelurahan Naioni ditetapkan sebagai salah satu lokasi prioritas penanganan kemiskinan dan stunting di Provinsi NTT tahun 2022 berdasarkan keputusan gubernur NTT nomor 179/KEP/HK/2022. Salah satu penyebab stunting adalah kurang nutrisi selama 1.000 hari pertama kehidupan. Pemberian nutirisi pada bayi harus secara bertahap sesuai dengan usianya. Pemberian ASI eksklusif mendukung tumbuh kembang bayi dalam 6 bulan pertama kehidupannya. ASI mengandung zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi. Bayi mengalami pertambahan berat dan panjang yang cukup serta memiliki risiko lebih rendah untuk menderita penyakit tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita usia 12-24 bulan di Puskesmas Naioni Kota Kupang. Jenis penelitian observasional analitik dengan desain case control study. Populasi penelitian adalah ibu dan balita berusia 12-24 bulan dengan sampel sebanyak 38 yang diambil secara purposive. Analisis data menggunakan Fisher’s Exact Test dengan Confidence Interval 95% and α 0.05. Hasil uji diperoleh nilai p= 0,002 dan OR 14,57. Ada hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting. Balita yang tidak mendapat ASI eksklusif berisiko 14,57 kali lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan dengan balita yang diberi ASI eksklusif.