HUBUNGAN USIA, PARITAS, JARAK KEHAMILAN, RIWAYAT HIPERTENSI DAN OBESITAS PADA IBU DENGAN KEJADIAN PRE-EKLAMSIA BERAT
DOI:
https://doi.org/10.5281/7k6bdt21Keywords:
Age, Parity, Pregnancy IntervalAbstract
Hipertensi dalam kehamilan, khususnya preeklampsia berat (PEB), merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas maternal. Di RSUD Ade M. Djoen Sintang, angka kejadian PEB mencapai 244 kasus pada tahun 2024, sehingga penanganan dan identifikasi faktor risikonya menjadi sangat krusial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menganalisis hubungan antara usia ibu, paritas, jarak kehamilan, riwayat hipertensi, dan obesitas dengan kejadian preeklampsia berat di RSUD Ade M. Djoen Sintang tahun 2025. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain case-control dengan pendekatan retrospektif. Populasi penelitian mencakup 228 kasus persalinan tahun 2024, dengan jumlah sampel sebanyak 70 responden (35 kelompok kasus PEB dan 35 kelompok kontrol) yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data sekunder diperoleh dari rekam medis pasien dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square. Distribusi frekuensi menunjukkan mayoritas responden berusia berisiko (<20 atau >35 tahun) sebesar 64,3%, paritas berisiko (>3 anak) sebesar 60,0%, jarak kehamilan berisiko (<2 tahun) sebesar 72,9%, memiliki riwayat hipertensi sebesar 68,6%, dan tidak mengalami obesitas sebesar 85,7%. Hasil uji bivariat mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan antara usia (p = 0,012), paritas (p = 0,001), jarak kehamilan (p = 0,030), dan riwayat hipertensi (p = 0,019) dengan kejadian PEB. Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara obesitas dengan kejadian PEB (p = 0,734). Usia, paritas, jarak kehamilan, dan riwayat hipertensi terbukti secara signifikan berhubungan dengan kejadian preeklampsia berat, sedangkan obesitas tidak menunjukkan hubungan signifikan. Peniadaan risiko melalui edukasi perencanaan kehamilan, deteksi dini saat pemeriksaan antenatal, serta manajemen riwayat kesehatan reproduksi sangat direkomendasikan untuk menekan angka kejadian PEB.