FEAR OF MISSING OUT (FOMO) DENGAN KEJADIAN GEJALA DEPRESI PADA REMAJA DI SMPN 1 SELOPURO DESA JATITENGAH KECAMATAN SELOPURO KABUPATEN BLITAR
DOI:
https://doi.org/10.5281/psk1eb43Keywords:
Fear Of Missing Out, Depressive Symptoms, AdolescentsAbstract
Fear of missing out (FOMO) merupakan kondisi psikologis berupa kekhawatiran bahwa individu lain memperoleh pengalaman yang lebih menyenangkan atau berharga, sehingga mendorong seseorang untuk terus mengikuti aktivitas orang lain, termasuk melalui penggunaan media sosial dan gadget. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis remaja dan berpotensi berkaitan dengan munculnya gejala depresi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan FOMO dengan gejala depresi pada remaja. Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 245 remaja dengan jumlah sampel 81 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri atas kuesioner FOMO yang dimodifikasi dari Sitasari (2012) dan Revised Child Anxiety and Depression Scale (RCADS) untuk mengukur gejala depresi. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman rank dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Sebagian besar responden mengalami FOMO dalam kategori ringan (58,0%) dan gejala depresi dalam kategori ringan (56,8%). Hasil uji Spearman rank menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara FOMO dan gejala depresi pada remaja (p < 0,001), dengan koefisien korelasi sebesar 0,691. Nilai tersebut menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan korelasi yang kuat, yang berarti semakin tinggi tingkat FOMO, semakin tinggi pula tingkat gejala depresi pada remaja. Dengan demikian, terdapat hubungan positif yang kuat dan signifikan antara FOMO dan gejala depresi pada remaja. Temuan ini menunjukkan pentingnya upaya promotif dan preventif untuk membantu remaja mengelola penggunaan media sosial, mengurangi perbandingan sosial, dan meningkatkan kemampuan regulasi emosi guna meminimalkan risiko munculnya gejala depresi..