PERBANDINGAN INDEKS PLAK GIGI DUA JAM SETELAH BERKUMUR AIR REBUSAN LOBAK PUTIH KONSENTRASI 50% DAN 75% SISWA SDN 21 PILUBANG
DOI:
https://doi.org/10.5281/gzfasy22Keywords:
Air Rebusan Lobak, Indek Plak, Kesehatan gigi, Obat kumur herbal, Siswa Sekolah DasarAbstract
Karies gigi pada anak usia sekolah masih menjadi masalah kesehatan secara umum. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, indeks DMF-T anak usia 12 tahun sebesar 68,6%, dengan pengalaman karies nya 2,0. Keadaan ini menunjukan anak pernah mengalami pengalaman karies sebanyak dua gigi, hal ini juga terjadi pada murid SDN 21 Pilubang. Plak gigi merupakan biofilm yang berperan dalam terjadinya karies. Pengendalian plak selain secara mekanis, Secara kimiawi dapat menggunakan lobak putih (Raphanus sativus L.) yang mengandung flavonoid dan tanin memiliki antibakteri dan berpotensi menghambat pembentukan biofilm. Namun, bukti efektivitas air rebusan lobak putih sebagai obat kumur masih terbatas. Tujuan penelitian membandingkan indeks plak gigi dua jam setelah berkumur air rebusan lobak putih konsentrasi 50% dan 75% pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini eksperimen murni (true experimental) dengan randomized posttest-only two-group design dilakukan pada 42 siswa kelas V dan VI SDN 21 Pilubang, Sumatera Barat, pada 19 Juli 2026. Sampel dipilih secara purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu konsentrasi 50% (n = 21) dan 75% (n = 21). Responden berkumur dengan 20 mL larutan selama 30 detik, dilakukan setelah menyikat gigi. Selama dua jam anak tidak diperbolehkan makan maupun minum, Kemudian Indeks plak diukur menggunakan modifikasi Turesky dari indeks Quigley-Hein. Uji normalitas data dilakukan menggunakan Shapiro–Wilk dan dianalisis dengan uji Mann–Whitney U. Kelompok konsentrasi 50% memiliki rerata indeks plak 0,349 ± 0,028 (median 0,35; IQR 0,34–0,37), sedangkan kelompok 75% memiliki rerata 0,242 ± 0,014 (median 0,25; IQR 0,23–0,25). Indeks plak pada kelompok 75% bermakna lebih rendah dibandingkan kelompok 50% (Z = −5,583; p < 0,001; r = 0,86).