HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KONDISI KESEHATAN MASYARAKAT PASCABENCANA SEBAGAI DASAR PERENCANAAN INTERVENSI PSIKOSOSIAL BERBASIS BUKTI DI KOTA PADANG
DOI:
https://doi.org/10.5281/m687ce57Keywords:
Kecemasan, Kondisi Kesehatan, PascabencanaAbstract
Bencana alam menimbulkan dampak psikologis dan gangguan kesehatan yang signifikan pada masyarakat terdampak. Peningkatan kecemasan pascabencana berpotensi memperburuk kondisi kesehatan dan menghambat proses pemulihan, sehingga diperlukan perencanaan intervensi psikososial yang terintegrasi dan berbasis bukti. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan tingkat kecemasan dengan kondisi kesehatan masyarakat pascabencana di Kota Padang sebagai dasar perencanaan intervensi psikososial berbasis bukti. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dengan subjek penelitian berasal dari masyarakat terdampak bencana. Tingkat kecemasan diukur menggunakan instrumen Generalized Anxiety Disorder-2 (GAD-2), sedangkan gangguan kondisi kesehatan diukur menggunakan Patient Health Questionnaire-2 (PHQ-2). Analisis bivariat dan multivariat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor dominan yang berhubungan dengan gangguan kondisi kesehatan pascabencana. Hasil penelitian mayoritas responden mengalami kecemasan (83,5%) dan gangguan kondisi kesehatan (87,7%). Terdapat hubungan bermakna antara kecemasan dan gangguan kondisi kesehatan pascabencana (p = 0,048). Secara multivariat, kecemasan meningkatkan risiko gangguan kondisi kesehatan sebesar 7,47 kali setelah dikontrol oleh tingkat pendidikan dan tingkat kerusakan (OR = 7,47; 95% CI: 1,48–37,7 Penelitian ini menyimpulkan bahwa kecemasan merupakan faktor determinan utama gangguan kondisi kesehatan masyarakat pascabencana. Hasil penelitian ini memperkuat urgensi skrining kecemasan sebagai komponen kunci dalam perencanaan dan pengembangan intervensi psikososial berbasis komunitas pada fase pemulihan pascabencana.