INTERVENSI KEPERAWATAN BERBASIS BUDAYA TERHADAP PENINGKATAN CAKUPAN SKRINING TUBERKULOSIS
DOI:
https://doi.org/10.5281/frvend92Keywords:
intervensi berbasis budaya, kelompok berisikoAbstract
Penelitian ini dilaksanakan untuk menilai efektivitas intervensi keperawatan berbasis budaya terhadap peningkatan cakupan skrining tuberkulosis pada kelompok berisiko di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pendekatan pre–post test with non-randomized control group. Sampel berjumlah 192 responden yang dipilih secara purposive, terdiri atas 104 responden kelompok intervensi dan 88 responden kelompok kontrol. Intervensi budaya dilakukan melalui pemberdayaan tokoh adat, tokoh agama, dan aparat desa sebagai penggerak komunitas, serta mobilisasi masyarakat untuk mengikuti skrining tuberkulosis secara partisipatif. Kelompok kontrol menerima edukasi standar berupa leaflet. Skrining tuberkulosis dilaksanakan satu bulan setelah intervensi menggunakan format skrining Kementerian Kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cakupan skrining tuberkulosis pada kelompok intervensi meningkat secara signifikan dari 17 menjadi 87 orang (67,31%), sedangkan pada kelompok kontrol meningkat dari 32 menjadi 56 orang (27,27%). Perbedaan peningkatan cakupan skrining antara kedua kelompok terbukti bermakna secara statistik (p = 0,0001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa intervensi keperawatan berbasis budaya efektif dalam meningkatkan cakupan skrining tuberkulosis pada kelompok berisiko dan berpotensi menjadi pendekatan inovatif dalam penanggulangan tuberkulosis berbasis komunitas.