DISPARITAS KARAKTERISTIK WILAYAH DAN PRAKTIK SOSIAL BUDAYA KONSUMSI PANGAN TERHADAP RISIKO STUNTING BALITA DI KABUPATEN SAMBAS KALIMANTAN BARAT
DOI:
https://doi.org/10.5281/jmt3vw28Keywords:
Pantai, Perbatasan, Sosiologi budaya makanan, StuntingAbstract
Latar Belakang: Kabupaten Sambas merupakan daerah prioritas penanganan stunting di Provinsi Kalimantan Barat, terletak di wilayah pesisir dan perbatasan. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat prevalensi stunting turun dari 32,6% (2021) menjadi 30,5% (2022), namun masih di atas rata-rata provinsi dan nasional. Stunting dipengaruhi praktik pengasuhan, akses pangan bergizi, sanitasi, dan faktor geografis-budaya seperti pantangan makanan lokal. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis komprehensif faktor penyebab stunting berdasarkan letak wilayah (pantai dan perbatasan) dan sosiologi budaya makan, yang belum banyak dieksplorasi di daerah perbatasan Indonesia.
Tujuan: Mengidentifikasi gambaran faktor penyebab stunting secara komprehensif dari aspek letak wilayah dan sosiologi budaya makan pada balita usia 2-5 tahun di Kabupaten Sambas.
Metode: Penelitian cross-sectional ini dilakukan Juli-Agustus 2022 di wilayah pantai dan perbatasan Kabupaten Sambas. Sampel terdiri dari 300 balita (150 pantai, 150 perbatasan) dengan kriteria usia 2-5 tahun dan bersedia berpartisipasi. Data dikumpul melalui antropometri, wawancara pengasuhan, dan analisis asupan gizi; diuji dengan uji chi-square.
Hasil: Balita pantai mengalami defisit energi (55%) dan karbohidrat (57%); perbatasan defisit protein (59%) dan lemak (49%). Pengasuhan pantai lebih baik (77% oleh orang tua), tapi pantangan makanan lebih tinggi di perbatasan (37%, terutama lauk hewani 48%). Prevalensi stunting pantai 35% sedangkan perbatasan 31%; tidak signifikan (p=0,54>0,05).
Kesimpulan: Pengasuhan pantai lebih baik namun stunting lebih tinggi; perbatasan sebaliknya. Intervensi disesuaikan budaya lokal berpotensi menurunkan stunting hingga target nasional <14% pada 2024.
Kata Kunci: Pantai; perbatasan; Stunting; Sosiologi budaya makanan