HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN  MOTIVASI DENGAN PERAWATAN ANAK RETARDASI MENTAL

Authors

  • Nofrida Saswati STIKES Harapan Ibu, Jambi Author
  • Isti Harkomah STIKES Harapan Ibu, Jambi Author
  • Dian Octavia STIKES Harapan Ibu, Jambi Author

DOI:

https://doi.org/10.5281/zenodo.16067522

Keywords:

dukungan keluarga, motivasi, perawatan RM

Abstract

Ketidaksesuian harapan orang tua dengan potensi yang dimiliki anak cenderung menimbulkan masalah di kemudian hari dalam proses perkembangan anak. Akibatnya kecemasan orang tua mempengaruhi kecenderungan untuk melindungi anak secara berlebihan. Keluarga yang mempunyai anak dengan retardasi mental akan memberikan dukungan dan motivasi yang lebih kepada anak sehingga dukungan dan motivasi keluarga dapat terpenuhi. Data retardasi mental di dunia diperkirakan terdapat 3% dari total populasi, tetapi hanya 1 – 1,5 % yang terdata. Berdasarkan standar skor dari kecerdasan kategori American Association of Mental Retardation (AAMR) gangguan mental klasifikasi penyakit di Indonesia menempati urutan kesepuluh di dunia. Berdasarkan hasil sensus tahun 2012 adalah sebesar 2,45%. Provinsi dengan persentase penyandang cacat tertinggi seperti retardasi mental adalah Bengkulu (3,96%) dan terendah adalah

Papua (1,05%). Sedangkan Provinsi Jambi pada urutan ke-13 sebesar 2,58%. Individu yang mengalami retardasi mental memiliki kepercayaan diri yang kurang, menolak untuk meningkatkan kemampuan diri, menarik diri dari lingkungan, mempunyai hubungan interpersonal yang kacau, komunikasi kurang selaras dan tidak terkontrol emosinya sehingga membutuhkan pertolongan dan bimbingan dari orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “hubungan dukungan keluarga dan  motivasi dengan perawatan anak retardasi mental di SD SLB”. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan Cross Sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dan motivasi terhadap perawatan anak retardasi mental di SD SLB. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner dukungan keluarga, motivasi orang tua dan perawatan anak retardasi mental sedang, penelitian ini telah dilakukan layak etik pada komite etik penelitian kesehatan poltekkes Kemenkes Jambi dengan No.LB.02.06/2/0994/2021. Populasi pada penelitian ini berjumlah 54 orang. Pengambilan sampel pada penelitian dengan tehnik Total Sampling. Selanjutnya dilakukan analisa secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Data univariat menggunakan distribusi frekuensi hasil penelitian sebagian besar memiliki dukungan keluarga baik sebanyak 28 (51,9%), motivasi yang tinggi sebanyak 28 (51,9%) dan perawatan anak retardasi mental dengan baik sebanyak 33 (61,1%) responden. Data bivariat di analisis menggunakan uji Chi-Square dengan kemaknaan 5% (0,05), hasil penelitian nilai  p = 0,014 <  0,05, artinya  ada hubungan antara dukungan keluarga dengan perawatan anak retardasi mental. Hasil penelitian menunjukkan diperoleh nilai p = 0,003 < 0,05, maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara motivasi dengan perawatan anak retardasi mental di SLB. Hasil penelitian ada hubungan antara dukungan keluarga dengan perawatan anak retardasi mental dan ada hubungan antara motivasi dengan perawatan anak retardasi mental di SLB. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Verawati dengan nilai (p) sebesar 0,003 maka dapat ditarik kesimpulan dukungan Keluarga memiliki hubungan terhadap kemampuan perawatan diri pada anak retardasi mental. Keluarga sangat berkaitan dengan masalah retardasi mental anak. Keluarga merupakan tempat tumbuh kembang seorang individu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ardani didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan motivasi keluarga dengan perkembangan prestasi belajar anak retardasi mental. Motivasi merupakan dorongan yang timbul dari orang tua dalam merawat anak dengan retardasi mental seperti dalam kebutuhan fisiologi, rasa aman, kebutuhan memiliki, penghargaan dan aktualisasi diri anak. Motivasi dalam hidup disetiap individu memberikan semangat atau dorongan yang bisa menjadi suatu kekuatan untuk mencapai sebuah tujuan.  Teori menyatakan motivasi timbul karena adanya dorongan dan rangsangan dari dalam maupun dari luar sehingga seseorang berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah laku atau aktivitas yang didasarkan pada kebutuhan biologis, insting, dan unsur-unsur kejiwaan lainnya. Peneliti berasumsi bahwa dukungan keluarga baik dalam melakukan perawatan anak retardasi mental dapat dilihat dari 60,6% sebagian besar responden memberikan dukungan kepada anak nya untuk brkomunikasi kepada teman-temannya. Peneliti berasumsi juga bahwa motivasi dengan perawatan anak retardasi mental tinggi, hal ini dapat dilihat dari 70,4% sebagian besar responden melibatkan anak dalam mengambil keputusan berhubungan dengan sekolahnya.

Downloads

Published

2024-04-28

Issue

Section

Articles