FAKTOR PENDORONG PENURUNAN STUNTING DI INDONESIA
DOI:
https://doi.org/10.5281/zenodo.16009183Keywords:
stunting, anak, gizi, IndonesiaAbstract
Kondisi gagal tumbuh pada anak-anak terus menjadi masalah kesehatan masyarakat global. Indonesia telah mencatat penurunan signifikan dalam prevalensi stunting pada masa anak-anak selama 4 tahun terakhir. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan penilaian sistematis terhadap faktor-faktor penentu yang mendorong penurunan stunting pada anak di Indonesia dari tahun 2019-2023 dengan fokus pada tingkat nasional, komunitas, rumah tangga dan individu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Secara khusus, tinjauan literatur sistematis, analisis data kuantitatif retrospektif menggunakan Survei Demografi dan Kesehatan dari tahun 2019-2023, pengumpulan dan analisis data kualitatif serta analisis kebijakan dan program utama yang spesifik dan sensitive terhadap nutrisi telah dilakukan. Prevalensi stunting Indonesia tahun 2019 sebesar 27,7 %. Walaupun sudah turun dari tahun sebelumnya, percepatan pencegahan stunting harus terus dilakukan agar memenuhi target penurunan prevalensi 14 % pada tahun 2024. Terdapat variasi regional, begitu pula kesenjangan pro-kaya, pro-perkotaan, dan pro-pendidikan. Kebijakan dan program yang menjadi kunci penurunan stunting berfokus pada peningkatan pertanian pedesaan untuk meningkatkan ketahanan pangan, desentralisasi sistem kesehatan, melibatkan penyuluh kesehatan untuk meningkatkan akses pedesaan terhadap layanan kesehatan dan mengurangi buang air besar sembarangan, strategi pengentasan kemiskinan multisectoral, dan komitmen untuk meningkatkan pendidikan anak perempuan. Wawancara dengan pemangku kepentingan nasional dan regional serta para ibu di masyarakat menunjukkan peningkatan dalam akses layanan kesehatan, pendidikan perempuan dan anak perempuan, peningkatan produksi pertanian, dan peningkatan praktik sanitasi dan perawatan anak sebagai pendorong penurunan stunting. Penurunan stunting di Indonesia didorong oleh sektor-sektor yang spesifik dan sensitif terhadap gizi, dengan fokus khusus pada sektor pertanian, akses layanan kesehatan, sanitasi, dan pendidikan.